Celtic Thunder

Loading...

Kuasa Kata: Menyapa

Saya pada awalnya mendesain blog ini untuk kepentingan pribadi. Blog ini semula hanya akan berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan tulisan. Blog ini kemudian beralih fungsi menjadi ruang kemanusiaan. Layaknya seorang photografer, saya membingkai berbagai kehidupan manusia dalam beragam frame. Blog ini menawarkan senyuman, tetapi sekaligus air mata kehidupan.
Semoga setiap nama dan peristiwa dalam blog ini menyapa
hidup Anda. Kata yang baik memiliki kuasa untuk menyapa.
Semoga hidup Anda pun tersapa saat anda memasuki blog ini.

Video Kesucian Politik

Loading...

Proyek Tulisan

Kafe Kasih: Kesucian dalam Keseharian Hidup (Agustus 2008)

Politik Tuhan


Kasih Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi

Teolog Perempuan Asia: Perspektif Pro-Feminis

Negara Kriminal

Dunia Berbagilah

Loading...

Wednesday, July 23, 2008

Rindu Cinta

Rindu Cinta

Dalam perjalanan pesawat dari Atlanta ke San Francisco, saya duduk berdampingan dengan seorang perempuan menawan. Setelah beberapa saat ngobrol Cindy membuka kartu profesinya. Ia sehari-hari bekerja sebagai pemijat di pusat kebugaran dengan waktu kerja seminggu penuh. Ia mengaku selalu kewalahan melayani tamu yang bergantian datang ke ruangan kerjanya.

“Kehidupan kerja berbanding terbalik dengan kehidupan cinta saya,” demikian pengakuannya.

“Kenapa bisa begitu?”

“Di ruang kerja pelanggan seperti berbaris menanti giliran pijat. Bahkan, sebagian menjadi pelanggan tetap saya. Namun, mereka sekedar pengguna jasa saya. Begitu keluar ruang pijat, saya menjadi pribadi asing bagi mereka.”

“Saya kaya materi, namun miskin cinta. Saya rindu cinta.”

Ia lalu menatap saya lama.

“Hidup Saudara memancarkan cinta. Saudara hidup diantara pribadi-pribadi terkasih. Saya ingin duduk di sisi Saudara lebih lama. Kalau boleh tahu, apa profesi Saudara?”

Pertanyaannya tersela pengumuman panjang dari pramugari mengenai keterlambatan jadual kedatangan pesawat. Pertanyaannya belum terjawab hingga pesawat mendarat dan kami saling mengucapkan selamat jalan.

Hari Minggu, saat merayakan ekaristi, Cindy muncul dalam daftar teratas doa saya.

Persilakan Aku Masuk!

Persilakan Aku Masuk!

Mario Testino, seorang fotografer bintang film dan model, belum lama merilis buku Let Me In! (2007). Testino membuka kembali bank arsip potret mereka yang sebelumnya gagal masuk seleksi untuk sampul majalah. Ia mengambil sisi lain kehidupan artis di luar kepentingan majalah.

“Saya tak sekedar menampilkan tokoh-tokoh terkenal. Foto-foto mereka harus menarik perhatian publik.”

“Mereka mengawali sessi pemotretan dengan takut. Ketakutan berubah menjadi kepercayaan saat saya mengambil waktu bersama untuk bercakap-cakap dengan mereka. Sisi dalam kehidupan muncul dalam saat-saat hening.”

“Foto-fotonya istimewa karena mereka mempersilakan saya memasuki kedalaman diri mereka. Saya ingin sisi dalam mereka juga terpancar dalam foto.”

“Pekerjaan saya sehari-hari bergelut dengan dunia kecantikan dan glamor. Setelah sessi pemotretan usai, saya melihat sisi dalam kehidupan mereka sebagai manusia. Pada akhirnya, kebaikan dan nilai-nilai dari sisi dalam merekalah yang bernilai.”


Sumber dokumentasi:
http://resursefoto.files.wordpress.com/2008/02/mario-testino-picture.jpg

Sunday, July 20, 2008

Kafe Kasih

Pada sebuah akhir pekan tiga pengunjung kafe yang belum saling kenal duduk bersama di sebuah kafe. Setelah berbicara ke sana-kemari, mereka akhirnya sepakat untuk ngobrol mengenai kasih.
Seorang pemudi yang baru saja menginjak usia 20 tahun memulai pembicaraan,
"Jika pacar mengasihi saya, saya membalasnya dengan cinta."
Seorang pemuda yang baru saja mengakhiri masa lajangnya unjuk bicara juga.
"Kasih hendaknya memberi dan menerima."
Seorang kakek yang baru saja merayakan ulang tahun pernikahannnya yang ke 40 mendengarkan sungguh-sungguh perbincangan hangat rekan-rekan satu mejanya. Ia menganggukkan kepalanya dan pikirannya menerawang peziarahan kasihnya sejak awal hingga saat ini.
"Apa pendapat kakek mengenai perbincangan kami?" tanya kedua rekan bicaranya serempak.
"Kasih itu memberi dan memberi."

Wednesday, July 16, 2008

Tempat Penyembuhan

Seorang perempuan yang menyimpan banyak luka dalam kehidupannya mendengar ketenaran seorang pertapa perempuan yang tinggal di sebuah padepokan di atas gunung.
Saat berjumpa dengannya, pertapa perempuan itu memegang lembut tangannya dan bertanya,
"Apa yang menggerakkan saudari datang ke tempat terpencil ini?"
"Saya mendengar pertapaan ini menjadi tempat penyembuhan bagi semua orang yang datang."
"Saya mempersilakan Saudari tinggal di padepokan ini selama beberapa waktu. Semoga saya dapat membantu menyembuhkan luka-luka Saudari. Sekarang silakan saudari beristirahat untuk melepaskan segala kepenatan selama perjalanan."
Keesokan harinya pertapa perempuan itu mengajaknya ke taman pertapaan itu.
"Saya merasa berkunjung ke taman surga," kata perempuan itu sambil menghirup keharuman bunga-bunga.
Hari berikutnya pertapa perempuan itu mengajaknya berjalan-jalan ke air terjun.
"Kesejukan air ini membasuh kepenatan hidupku," kata perempuan itu sambil mengambil sejumput air untuk membasahi wajahnya.
Hari ketiga pertapa itu mengajaknya mendaki gunung.
"Surga nampak tinggal selangkah jauhnya dari tempatku," kata perempuan itu sambil berlutut menatap langit.
Hari berikutnya pertapa perempuan itu mempersilakan dia untuk mengisahkan pengalamannya selama tiga hari terakhir.
"Saya merasakan beban kehidupan saya terangkat saat berada di taman, air terjun, dan puncak gunung. Apakah tempat-tempat itu membawa kesembuhan?"
Pertapa itu menatap perempuan itu dalam-dalam. Sambil memegang tangannya, ia berujar,
"Tempat-tempat itu dapat membantu Saudari untuk mengalami kesembuhan. Tempat penyembuhan itu sesungguhnya terletak dalam diri Saudari."

Sumber dokumentasi:
http://dusteye.files.wordpress.com/2007/03/taksang-monastery-2.jpg