Dalam perjalanan pesawat dari Atlanta ke San Francisco, saya duduk berdampingan dengan seorang perempuan menawan. Setelah beberapa saat ngobrol Cindy membuka kartu profesinya. Ia sehari-hari bekerja sebagai pemijat di pusat kebugaran dengan waktu kerja seminggu penuh. Ia mengaku selalu kewalahan melayani tamu yang bergantian datang ke ruangan kerjanya.
“Kehidupan kerja berbanding terbalik dengan kehidupan cinta saya,” demikian pengakuannya.
“Kenapa bisa begitu?”
“Di ruang kerja pelanggan seperti berbaris menanti giliran pijat. Bahkan, sebagian menjadi pelanggan tetap saya. Namun, mereka sekedar pengguna jasa saya. Begitu keluar ruang pijat, saya menjadi pribadi asing bagi mereka.”
“Saya kaya materi, namun miskin cinta. Saya rindu cinta.”
Ia lalu menatap saya lama.
“Hidup Saudara memancarkan cinta. Saudara hidup diantara pribadi-pribadi terkasih. Saya ingin duduk di sisi Saudara lebih lama. Kalau boleh tahu, apa profesi Saudara?”
Pertanyaannya tersela pengumuman panjang dari pramugari mengenai keterlambatan jadual kedatangan pesawat. Pertanyaannya belum terjawab hingga pesawat mendarat dan kami saling mengucapkan selamat jalan.
Hari Minggu, saat merayakan ekaristi, Cindy muncul dalam daftar teratas doa saya.



